karya laily hidayati





SPESIALLY FOR MOTHER AND FATHER


Hari ini hujan dengan lembut membasahi bumi, setiap tetesan hujan yang membuatku merenung akan masa depan yang sedang menanti. Dua malaikat tanpa sayap yang Allah berikan kepadaku yang selalu ada di sampingku yaitu Ayah dan Ibu. Ayah tak kenal lelah, tak kenal terik dan panasnya matahari dan sejuknya hujan, ayah selalu pergi mencari nafkah, dan Ibu tak pernah bosan memberikan ku arahan dan nasihat agar kelak menjadi putri yang shalihah untuk kalian.
Aku baru saja lulus sekolah MTS, entah apa yang membuatku ingin pergi meninggalkan kampung halaman, aku ingin masuk di sekolah yang didalamnya ada program penghafal Alquran, ayah sangat senang mendengarnya begitu juga dengan ibu, tapi berbeda dengan hatiku yang akan selalu merasakan kekhawatiran dengan jarak yang sangat jauh dan dengan rindu yang menumpuk di kalbuku.
Tapi, inilah pilihan ku, inilah kemauanku ini lah impian yang harus ku wujudkan, aku tak akan terus menjadikannya sebuah mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan dengan ini aku harus menyatakan bahwa aku akan mewujudkan nya. Tibalah di mana aku mulai mengikuti seleksi dalam pesantren, tak lupa ibu selalu mengatakan teruslah mengingat Allah agar semua urusan mu di permudah oleh-Nya.
Dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” aku melangkah masuk dalam ruangan seleksi, ibu melihatku dari kaca jendala ruangan dengan garis senyumnya yang lebar yang membuatku semakin semangat, aku melihat wajahnya dan matanya yang penuh harapan agar aku bisa lulus dan membuat nya terharu bahagia melihatku sukses dalam menghafal Alquran.
 Seminggu kemudian...
            Aku mendapatkan sebuah surat dari ibu yang masih belum terbuka dan aku penasaran apa isi dalam surat tersebut, dengan mengucapkan “Bismillah” aku membukanya dan membaca isi surat yang menyatakan bahwa aku lulus dalam seleksi minggu lalu. Aku sangat gembira dan sedikit sedih akan meninggalkan mereka dirumah dan menahan rindu terhadap mereka.
“Nak, luruskan Niatmu, jangan fikirkan kami, kami disini baik-baik saja..”
“Iya bu, Aku juga akan baik-baik saja..”
“Ya sudah susunlah baju-baju yang mau dibawa besok..”
“Iya bu..”
            Saat aku membuka lemariku yang di penuhi pakaian ku, tiba-tiba air mataku menetes, aku tak percaya besok aku akan pergi, besok meninggalkan rumah ini, tapi ini harus ku lakukan demi mereka orang yang ku sayangi, ayah dan ibuku.
Esok hari...
            Pagi yang dengan rintikan hujan yang seakan-akan tahu bagaimana keadaan hati dan perasaanku saat itu, ayah sangat semangat membawa tas ku padahal aku tahu dia sedang sakit tapi tak pernah menunjukkan sakitnya didepanku, air mata ku terbendung dengan hebatnya, hela’an nafas yang membuat air mataku tak jadi menetes.
            Akhirnya kami sampai di tujuan tepat jam 10.45, aku melihat banyaknya teman-teman baru ku, dan aku berfikir apakah perasaanku sama dengan perasaan mereka, ada yang nangis meminta pulang, ada yang senang, dan aku berada di antara kedua perasaan itu sedih dan senang.
            Waktu sangat singkat, aku merasa baru saja sampai tapi jam sudah menunjukkan angka 17.35 yang mengharuskan para orang tua pulang kampung halamannnya masing-masing, ayah dengan elusan lembut yang menempel di kepala ku membuat air mata yang tadinya ku bendung menjdi keluar dengan derasnya.
“Anak itu harus merantau, anak itu harus mandiri..”
“Iya Ayah..”
            Aku tak kuasa melihat mereka keluar dari gerbang pesantren, aku tahu mereka juga sedih karena jauh dariku, akan tetapi mereka tak ingin memperlihatkannya kepadaku. Dan aku mencoba menjalani kegiatan yang ada didalam pesantren, hari demi hari berlalu waktu demi waktu terus berputar tak terasa sudah 2 tahun setengah lamanya aku di pesantren.
            Aku mendapat kabar dari teman kalau orang tuaku menelpon, aku bergegas menuju kantor para guru dan menerima telpon dari ibu, aku sangat senang saat mengangkat telpon.
“Assalamualaikum nak?..”
“Kenapa bu?, ada apa bu?..”
“Ayah masuk rumah sakit nak..”
“Aku pulang sekarang bu, Assalamualaikum..”
            Aku berlari menuju kamar, dengan rasa yang sangat perih di hatiku, aku memikirkan keadaan ayah ku, air mata terus menetes dengan deras menyetuh pipiku, aku pergi ke kantor untuk meminta izin kepada guru ku, aku mendapat izin dan langsung pergi ke rumah sakit.
Sesampai dirumah sakit...
            Terdiam aku melihat ayah yang sudah terbaring lemas di tempat tidurnya, dengan kuat dia tetap memperlihatkan senyuman nya untuk ku seolah-olah dia tak merasa kesakitan, hati ku terasa seperti teriris pisau, aku menghampirinya dan ku pegang tangannya yang dingin itu.
“Ayah, ini aku, aku pulang yah, ayah yang kuat ya yah, ayah pasti sembuh, aku sbentar lagi akan tamat yah, aku akan sering berada dirumah dan merawat ayah, ayah harus sembuh yah”
            Ayah tak bisa banyak berbicara, di mulutya ada selang yang aku tak tahu apa gunanya itu, bagiku itu hanya menambah ayah kesakitan, aku tak tega melihat keadaan ayah seperti itu. Ibu menyuruhku agar pulang kepesantren karena besok aku akan sekolah dan ini sudah semester akhir, dengan berat hati aku menuruti apa kata ibu ku. Aku kembali ke pesantren seperti tak semangat untuk mengikuti pelajaran disekolah.
            Siang berganti malam, aku tak bisa tidur, fikiran ku hanya ayah, ayah dan ayah bagaimana keadaan nya, air mata terus menetes tiada henti rasanya aku ingin kembali ke rumah sakit dan melihat keadaan ayah. Tiba-tiba aku di panggil oleh salah satu guru kalau ia menerima tepon dari ibu, aku langsung pergi ke kantor dan menerima telpon dari ibu.  
“nak, ayahmu nak..”
“ayah kenapa bu?..”
“ayahmu meninggal, ayah udah tiada..”
            Aku terdiam seakan-akan aku tak percaya ini terjadi, aku berlari menuju kamar tidur dan aku menangis, air mata ku tak ingin berhenti, ayah meninggal saat aku tak berada disampingnya, aku langsung pergi meninggalkaan pesantren menuju rumah. Sesampai dirumah, aku melihat sudah ada bendera hijau di depan rumah, air mata terus mengalir dengan derasnya.
            Ibu langsung memelukku, dan aku melihat ayah sudah terbaring tak berdaya di tempat tidur yang di belikan nya untukku waktu itu, ibu tak henti menyuruhku untuk selalu beristighfar, sampailah pada saat dimana aku ikut mengantarkan ayah di tempat peristirahatan terakhirnya.
Esok harinya..
            Hari tetap merintikkan hujannya, seakan tahu apa yang sedang ku rasa, seseorang merengkulku dari belakang dan ternyata itu ibu, ibu tahu aku sedang menangis lalu ibu memelukku.
“doakan ayah, teruslah pada niat utamamu, dengan begitu ayah akan senang melihat anaknya..”
            Mendengar kata-kata itu, aku langsung memeluk ibu dengan sangat erat, aku sadar cuma dia malaikat tanpa sayap yang masih ada di dalam hidupku, akan ku usahakan mimpi itu terwujudkan demi mereka orang tua ku. Dan aku kembali ke pesantren untuk menyelesaikan sekolah hafalanku.
Tamat dan wisuda pun tiba...
            Hari cerah pun meyambut para orang tua yang hadir untuk melihat anak-anak mereka, teman-teman ku di temani oleh kedua orang tua mereka, berbeda denganku ibu dan sekaligus menjadi ayah didalam hidupku juga hadir dengan garis senyuman yang tetap sama seperti pertama kalinya dia menemani ku seleksi di pondok pesantren.
            Ayah, aku sudah selesai menghafal begitu juga dengan sekolahku, ayah, semoga kau bahagia disana, semoga kau terenyum melihat putrimu ini, aku akan selalu mendoakanmu yah, dan akan menjaga ibu untukmu.

                       

Komentar