makalah akhlak tasawuf
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pengenalan diri di kalangan
sufi merupakan sesuatu yang penting. Orang yang tidak mau mengenali dirinya
sendiri, sama saja dengan karung yang kosong melompong. Ilmu pengetahuan diri
dianggap ilmu rahasia. Orang yang belum pernah belajar ilmu pengetahuan diri
dianggap belum sempurna imannya.
Maqam didalam tasawuf mempunyai arti
sebagai tingkatan- tingkatan yang harus ditempu untuk mencapai ma’rifatullah(
mengenal Allah), yang sifatnya permanen atau tetap, namun sifatnya tidak tegas
dan tidak berurutan
Didalam tasawuf, banyak teori yang
menyebut karakter- karakter keluhuran yang seharusnya dimiliki oleh manusia. Karakter
– karakter tersebut tergambar dalam konsep- konsep yang salah satunya adalah maqam.
Dalam konsep maqam, terdapat banyak karakter-
karakter tadi yang diantaranya adalah Taubah yang berarti semangat untuk melakukan
perubahan yang lebih baik.
Atas dasar pemikiran di atas kami akan membahasnya didalam
makalah ini.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan maqam?
2. Apa macam- macam maqam dalam tasawuf?
3. Apa itu Ah-wal?
4. Apa macam- macam Ahwal?
5. Apa saja karakteristik ahlak kaum sufi?
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui penjelasan
maqam.
2. Untuk
mengetahui penjelasan macam- macam maqam dalam tasawuf.
3. Untuk
mengetahui penjelasan Ah-wal.
4. Untuk
mengetahui penjelasan macam- macam Ahwal.
5. Untuk mengetahui penjelasan tentang
karakteristik akhlak kaum sufi
BAB II
PEMBAHASAN
A.
MAQAM
Dalam
rangka meraih derajat kesempurnaan, seorang
sufi dituntut untuk melampaui tahapan- tahapan spiritual, memiliki suatu
kosepsi tentang jalan (thariqat) menuju Allah Swt, jalan ini dimulai dengan
latihan- latihan rohaniah (riyadhah) lalu secara bertahap menempuh berbagai
fase yang dalam tradisi tasawuf dikenal dengan maqam (tingkatan).
Perjalanan
menuju Allah Swt, merupaan metode pengenalan (makrifat) secara rasa (rohaniah)
yang benar terhadap Allah Swt. Manusia tidak akan mengetahui banyak
penciptaannya selama belum melakukan perjalanan menuju Allah Swt. Walaupun ia
adalah orang yang beriman secara aqliyah. Sebab, ada perbedaan yang dalam
antara iman secara aqliyah atau logis- teoretis (ai-iman al-aqli an-nazhari) dan iman secara rasa (al-iman asy-syu’ri adz-dzauqi).
Tingakatan
(maqam) adalah tingkatan seorang
hamba di hadabannya tidak lain merupakan kualitas kejiwaan yang bersifat tetap,
inilah yang tidak lain membedakannya dengan keadaan spireitual (hal) yang
bersifat sementara. Di kalangan kaum sufi, urutan maqam berbeda- beda, sebagian mereka merumuskan maqam- maqam dengan
sederhana, seperti rangkaian maqam qanaah beriut ini: (1) tanpa qanaah, tawakal
tidak akan tercapai; (2) tanpa tawakal, taslim tidak akan ada sebagaimana; (3)
tanpa tobat, inabah tidak akan ada; (4) tanpa wara’, zuhud tidak akan ada.
Sementara
itu, Al- kalabadzi—dalam buunya”At-ta’arruf
li mazhab At-tashawwuf” menjadikan tobat sebagai kunci ketaan. Kemudian
zuhud, sabar, faqr, tawadhu, taqwa, ihlas, syuur, tawakal, rida,yakin, zikir,uns,qarb,
dan mahabbah.
Al-Qusyairi,
dalam buunya “Ar- Risalah Al-Qusyairiyyah “ memberikan urutan maqam sebagai
beriut: tobat,mujahaddah, khalwat, uzla, takwa, wara’, zuhud, khauf, raja, qanaah,
tawakal, syukur, sabar,muraqabah, rida, ikhlas, zikir,faqr, muhasabah, dan syauq..
Rumusan
al- Gazali lebih sedikit lagi, ia merumuskan maqam seperti berikut ini: tobat,
sabar, syukur, khauf, raja, tawakal, mahabbah, rida, ikhlas, muhasabah, dan
muraqobah.
Sementara
itu, Asy- Syukhrawardi dalam bukunya “Al-Awarif
Al-ma’rif” merumusvan maqam menjadi tobat, wara’, zuhud, sabar, faqr,
syukur, khauf, tawakal, dan rida.
Seorang
tidak dapat beranjak dari satu maqam ke maqam lain sebelum ia memenuhi semua
persyaratan yang ada pada maqam tersebut. Sebgaimana digambarkan oleh Al- Qusyairia bahwa seseorang yang belum
sepenuhnya qanaah tidak bisa mencapai tawaal dan barang siapa yang belum
sepenuhnya tawakal tidak bisa sampai pda taslim. Barang siapa yang belum
sepenuhnya taubah tidak bisa sampai inabat dan barang siapa yang belum
sepenuhnya wara tidak bisa mencapai zuhud, begitu seterusnya.
Perlu
diketahui, antara maqam dan hal tidak dapat dipisahkan. Keduanya dapat dilihat
dalam kenyataan bahwa maqam menjadi prasyarat menjadi Tuhan. Bahwa dalam maqam
akan mengntarkan seseorang untuk mendaki ke maqam- maqam selanjutnya.
Sekadar
contoh, apabila seorang yang tengah berada dalam maqam tobat maka akan
menemukan hal (perasaan) betapa indahnya bertobat itu dan betapa nikmatnya
menyadari dosa- dosa dihadapan Tuhan.
Macam-
macam maqam dalam tasawuf yang dijalani
kaum sufi umumnya terdiri atas: tobat, wara’, zuhud, faqr (fakir), sabar,
rela(ridha), tawakal.
1.
Tobat
Dalam
ajaran tasawuf tobat termasuk sebagai maqam pertama yang harus dilalui dan
dijalani oleh kaum sufi. Kebanyakkan kaum sufi menjadikan tobat sebagai awal di
jalan menuju Allah Swt. Di mana tobat memiliki pengertian yaitu menyadari
kesalahan sepenuh hati dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Apabila
telah tercapai maqam attaubatu min taubatihiiyakni mentaubati
terhadap kesadaran keberadaan dirinya dan kesadaran akan tobatnya itu sendiri.
2.
Wara’
Wara’
yaitu menjauhi atau meninggalkan segala hal yang belum jelas haram dan halalnya
serta orang yang menjaga marwah (harga diri). Hal ini berlaku dalam segala hal
atau aktivitas kehidupan manusia seperti makanan, minuman, pakaian,
pembicaraan, perjalanan, dan lain- lain. Nabi bersabda yang artinya ibadah itu
sepuluh. Sembilan dari pahala dalam mencari halal, menjadi dua yaitu wara’ segi
lahir dan wara’ batin. Wara’ lahir yaitu hendaklah kamu tidak bergerak
terkecuali untuk ibadah kepada Allah. Wara’ batin yaitu agar tidak masuk dalam
hatimu terkecuali Allah ta’ala.
3.
Zuhud
Sesudah
maqam wara’ dikuasai mereka baru berusaha menggapai maqam di atasnya, yakni
maqam zuhud. Berbrda dengan wara’ yang pada dasarnya merupakan perilaku
menjauhi yang subhat dan setiap yang haram, maka zuhud pada dasarnya adalah
tidak tama atau tidak ingin mengutamakan kesenengan duniawi. Jadi dapat
disimpulkan zuhud merupakan maqam yang bertujuan menjauhkan diri dari apa pun
yang memalingkan Allah Swt.
Misalnya
seseorang hanya mempunyai hasrat, keinginan dan nafsu untuk menjadikan
kemewahan dan kenikmatan duniawi sebgai tujuan hidupnya atau sehingga
memalingkan dari Tuhan. Oleh arena itu,
seorang sufi dituntut untuk terlebih dahulu memalingkan seluruh aktivitas
jasmani dan rohaninya dari hal- hal yang bersifat duniawi.
4.
Faqr (fakir)
Dapat
berarti sebagai kekurangan yang diperlukan seseorang dalam menjalani kehidupan
di dunia. Karena kekayaan/ harta memungkinkan manusia dekat pada kejahatan dan
membuat jiwa menjadi lupa pada Allah. Maka dapat disimpulkan bahwa fakir adalah
golongan yang telah memalingkan setiap pikiran dan harapan yang akan memisahkan
dari Allah atau penyucian hati secara keseluruhan terhadap apa yang membuat
jauh dari Tuhan.
5.
Sabar
Dalam
islam mengendalikan diri untuk laku sabar
merupakan tiang bagi akhlak mulia. Dalam tasawuf sabar dijadikan satu maqam
sesudah maqam fakir karena persyaratan untuk bisa konsentrasi dalam zikir orang
harus bisa mencapai fakir. Tentu hidupnya aan dilanda berbagai macam rintangan,
oleh karena itu harus melangkah ke maqam sabar. Dimana sabar memiliki
pengertian yaitu menahan diri dari nafsu dan amarah. Dimana dalam firman Allah
yaitu:
“Wahai orang-orang yang
beriman minta tolonglah dengan sholat dan sabar, sesungguhnya Allah bersama
orang-orang yang sabar”.
6.
Rela (Ridha)
Rela
(ridha) berarti menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugrahkan Allah
Swt. Orang yang rela mampu menerima dan melihat hikmah dan kebaikan dibalik
cobaan yang diberikan Allah Swt. dan tidak berburuk sangka terhadap
ketentuannya.
Menurut
Abdul Halim Mahmud, ridha mendorong manusia berusaha seuat tenaga mencapai apa
yang dicintai Allah Swt. dan Rasul-Nya. Sebelum mencapainya ia harus menerima
dan merelakan akibatnya dengan cara apa pun yang diskai Allah Swt.
7.
Tawakal
Dalam
syariat Islam diajarkan bahwa tawakal dilakukan segala daya dan upaya dan
ikhtiar dijalankannya. Tasawuf menjadikan maqam tawakal sebagai wasilah atau
sebagai tangga untuk memalingkan hati manusia agar tidak memikiran keduniaan
serta apa saja selain Allah Swt.Tawakal merupakan keteguhan hati dalam
menggantungkan diri hanya kepada Allah Swt. Serta berhenti memikirkan diri
sendiri atau merasa memiliki daya dan kekuatan. Dikataan oleh sejumlah kaum
sufi bahwa barang siapa yang ingin melakukan tawakal dengan sebenar-benarnya
hendaknya ia menggali kubur di siti melupakan dunia dan penghuninya artinya tawakal
mencerminkan penyerahan diri menusia kepada Allah Swt.
Dimana
Maqam terbagi menjadi tujuh, yaitu:
-
Maqam
tobat
-
Maqam
wara’
-
Maqam
zuhud
-
Maqam fakir
-
Maqam
sabar
-
Maqam
ridha
-
Maqam
tawakal.
Seseorang
tidak dapat beranjak dari suatu maqam ke maqam lain sebelum ia emenuhi semua
persyaratan yang ada pada maqam tersebut. Sebagaimana digambarkan oleh
Al-Qusyairia bahwa seseorang yang belum sepenuhnya qanaah tidak bisa mencapai
tawakal dan barangsiapa yang belum sepenuhnya tawakal tidak bisa sampai taslim.
Barang siapa yang belum sepenuhnya taubat tidak bisa sampai inabat dan barang
siapa yang belum sepenuhnya wara’ tidak bisa mencapai zuhud begitu dengan
seterusnya.
B.
AHWAL.
Ahwal
adalah bentuk jamak dari ‘hal’ yang
biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh
para sufi di sela- sela perjalanan spritualnya. Hal ini merupaan anugrah dan
rahmat dari Tuhan.
Al-Sarraj,
sebagai sufi yang hidup lebih dahulu dari para sufi tersebut, memandang bahwa
ahwal adalah “ apa-apa yang bersemayam
di dalam kalbu dengan sebab zikir yang tulus “. ada yang mengatakan bahwa hal
adalah zikir yang lirih (khafiy), sebagaimana Hadist Nabi yang menyatakan bahwa
sebaik-baik zikir adalah yang lirih (khayr al-dzikir al-khafy). Menurut
Al-Saraj, Al-Junaid juga melihat bahwa hal bertempat didalam kalbu dan tidak
kekal. Dalam pandangan al-sarraj, hal tidak diperoleh melalui ibadah, riyadhah,
dan mujahadah sebagaimana maqamat, melainan anugerah Allah.
Kendatipun
kondisi
atau sikap mental itu semata anugerah Allah, bukan karena latihan dan
perjuangan, namun bagi setiap orang yang ingin meningkatkan intensitas jiwanya
haruslah berusaha menjadikan dirinya orang yang berha menerima anugerah Allah
tersebut, yaitu dengan meningkatkan amal perbuatannya, bai dari segi kualitas
maupun segi kuantitasnya.
Jika
diurut sejarahnya, konsep tentang maqamat dan ahwal sesungguhnya telah ada pada
masa awal- awal islam. Tokoh pertama yang berbicara tentang dua konsep penting
dalam tasawuf ini adalah Ali bin Abi Thalib: ketika ia
ditanya tentang iman,ia menjawab bahwa iaman dibangunatas empat pondasi:
kesabaran (shabr), keyakinan (yaqin), veadilan (‘adl) dan perjuangan (jihad).
Senada dengan pandangan ini, tokoh pertama yang juga membahas tentang ahwal
adalah Zunnun al- mishri (w, 796-861
M) , sementara Sari al-Saqati( w.253 H/ 867 M) merupaan sufi pertama yang
menyusun maqamat dan menjelaskan tentang ahwal.
Dibawah
ini adalah beberapa macam ahwal, diantaranya sebagai berikut.
1.
Khauf
Khauf menurut ahli sufi berarti suatu
sikap mental merasa takut kepada Allah karena khawatir kurangnya pengabdian.
Takut Dan khawatir kalau- kalau Allah tidak senang padanya. Oleh karena adanya
perasaan seperti itu, maka ia selalu berusaha agar sikap dan tingkah laku
perbuataanya tidak menyimpang dari yang dikehendaki Allah. Bisa jadi perasaan khauf ini timbul karena takut kepada
sisa Allah. Juga bisa timbul karena pengenalan dan kecintaan kepada Allah sudah
begitu mendalam, sehingga ia merasa khawatir kalau- kalau Allah melupakannya.
Dalam hubungan ini imam Al- Gazali
berbicara tentang macam- macam khauf.
Beliau membagi khauf kepada dua
macam, yaitu: (1) khauf karena
khawatir kehilangan nikmat. Inilah yang mendorong orang untuk selalu memelihara
dan menempatkan nikmat itu pada tempatnya, dan (2) khauf epada sisaan sebagai akibat perbuatan kemaksiatan. Khauf seperti inilah yang mendorong
orang untuk menjauh dari apa yang dilarang dan melaksanakan apa yang
diperintah.
Dalam pandangan Al-Sarraj, khauf (takut) senantiasa bergandengan
dengan mahabbah (cinta). Keduanya
tidak bisa dipisahkan dan masih dalam bingkai qurb ( kedekatan). Qurb
membutuhkan dua kondisi. Pertama, dalam hati sang hamba yang dominan adalah
rasa takutnya. Kedua, dalam hati sang hamba yang dominan adalah rasa cintanya. Hal itu
terjadi karena Allah memberikan kepada hati
sebuah kepercayaan.
2.
Raja’
Raja’ adalah suatu sikap mental yang optimis dalam memperoleh karunia dan rahmat
ilahi yang disediakan bagi hamba- hamba-Nya yang saleh, karena ia yakin bahwa
Allah Maha Pengasih , Pengasih, Penyayang, dan Maha pengampun. Jiwanya penuh
pengharapan avan mendapat ampun, merasa lapang dada, penuh gairah menanti
rahmat dan kasih sayang Allah. Perasaan optimis ini aan memberi gairah bagi
sufi untu terwujudnya apa yang diidam- idamkan.
Dalam
konteks ini Ibnu Qudamah al-Muqaddasi mengatakan bahwa yang di katakan dengan
raja’ ialah rasa lapang dada varena menantivan yang diharapkan, yaitu hal yang
mungkin terjadi. Tetapi jika yang diharapkan itu mustahil terjadi, maka yang
demikian dinamkan tamanni (ilusi).
Beliau juga mengatakan “ sesuatu yang terlintas di dalam hati yang merupakan
harapan pada masa yang akan datang dinamakan raja’, dan yang merupakan sesuatu
yang ditakuti dinamaan khauf.
Demikianlah
arti raja’yang mendorong manusia muslim untuk selalu berbuat baik dan beramal
saleh demi mengharap varunia dan rahmat Allah. Allah Swt, berfirman:
“sesungguhnya orang- orang yang beriman, orang- orang yang berhijrah dan
berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah maha
Pengampun lagi maha Penyayang”. (QS. Al-Baqoroh [2]:218)
3.
Syauq
Syauq
adalah kerinduan, varena setiap orang yang cinta vepada sesuatu tentu ia
merindukannya. Secara psiologi, rindu tidak akan tumbuh, melainkan terhadap
sesuatu yang sudah diketahui. Terhadap sesuatu yang belum diketahui tidak
mungkin lahir rasa rindu. Kesempurnaan rasa rindu itu adalah dengan ru’yah (melihat) dan liqa’ (bertemu) yang dirindukan, dan
yang demivian akan dapat pada hari akhir nanti.
Dengan
demikian, syauq adalah rasa rindu yang memancar dari kalbu karena gelora cinta
sejati. Pengetahuan dan pengenalan yang mendalam terhadap Allah akan
meenimbulkan rasa gairah. Rasa senang yang bergairah melahirkan cinta dan akan
tumbuh rasa rindu. Rindu ingin bertemu, dan hasrat yang selalu menggelora.
Setiap denyut jantung, detak kalbuh dan desah nafas, ingatannya hanya kepada
Allah. Inilah syauq. Perasaan inilah yang menjadi motor pendorong orang sufi
untuk selalu ada sedekat mungkin dengan Allh, yang menjadi sumber segala
kenikmatan dan keindahan yang didambakan.
4.
‘Uns
Dalam
tasawuf ‘Uns berarti veakraban atau
keintiman. Perasaan ‘Uns merupakan
kondisi kewajiban, dimana seorang merasakan kedekatan dengan Tuhan (pencerahan
dalam kebenaran). Seseorang yang pada kondisi ‘Uns akan merasakan kebahagiaan, kesenangan, serta suka cinta yang
meluap- luap. Kondisi kejiwaan seorang sufi ketika merasakan kedekatan dengan
Allah yang mana hati dan perasaan diliputi oleh cinta dan lain- lain. Menurut
Abu Sa’id Al-kharraj ‘Uns adalah perbincangan antara roh dengan sang kekasih
pada kondisi yang sangat devat. Zunnun memandang ‘Uns sebagi perasaan lega yang
melekat pada sang pencinta terhadap kekasihnya.
Pengertian
lain ‘Uns adalah veadaan jiwa dan seluruh ekspresi terpusat penuh kepada suatu
titik sentrum yaitu Allah, tidak ada yang di rasa, tidak ada yang di ingat,
tidak ada ynag diharap kecuali Allah. Segenap jiwanya terpusat bulatsehingga ia
seavan- akan tidak menyadari dirinya lagi dan berada dalam situasi hilang
kesadaran terhadap lam sekitarnay. Situasi vejiwaan seperti itulah yang disebut
Al-‘Uns. Situasi ‘Uns ini mirip dengan al- fana sebab kata Dzu al-nun seorang
yang memperoleh keadaan ‘uns viranya ia dilemparkan ke \neraka, tentu tidak
akan merasakan panasnya neraka itu.
Dalam
pabdangan sufi, sifat ‘uns (intim) adalah sifat merasa selalu berteman, tak
pernah merasa sepi. Ungkapan berikut ini melukiskan sifat ‘Uns, “ Ada orang
merasa sepi dalam keramaian. Ia adalah orang yang selau memikirvan vekasihnya
sebab sedang dimabuv cinta, seperti halnya sepasang pemuda dan pemudi. Ada juga
yang merasakan bising dalam kesepian. Ia adalah orang yang memikirvan atau
merencanakan tugas pekerjaannya semata- mata. Adapun engkau, selau berteman di
mana pun berada. Alangkah mulianya Engkau berteman dengan Allah, artinya engvau
selalu berada dalam pemeliharaan Allah.
5.
Mahabbah
Mahabbah secara literal mengandung beberapa pengertian sesuai dengan
asal pengembalian katanya. Mahabbah berasal
dari kata hibbah, yang berarti benih
yang jatuh ke bumi, karena cinta adalah sumber kehidupan, sebagaimana benih
menjadi sumber tanaman.
Dalam
perspektif tasawuf ,mahabbah bisa ditelusuri
maknanya menurut pandangan para sufi. Menurut Al-Junaid, cinta adalah
kecenderungan hati. Yakni hati cenderung kepada Tuhan dan apa- apa yang
berhubungan dengan- Nya tanpa usaha. Cinta, menurut pemuka sufi lain, adalah
mengabdikan diri kepada yang dicintainya.
6.
Yaqin
Perpaduann
antara penegetahuan yang luas dan mendalam dengan rasa cinta dan rindu yang
menggelora bertaut lagi dengan perjumpaan secara langsung, tertanamlah dalam
jiwanya dan tumbuh bersemi perasan yang mantap, dialah yang dicari tu. Perasaan
mantapnya pengetahuan yang diperoleh dari pertemuan secara langsung, iyulah
yang disebut dengan Al-yaqin. Yaqin
adalah kepercayaan yang kokoh tak tergoyahkan tentang kebenaran pengetahuan
yang ia miliki, karena ia sendiri menyaksikannya dengan jiwanya.
Selanjutnya,
menurut sebagia orang sufi, yaqin
adalah suatu pengetahuan yang diletakkan bedlam hati seseorang .jdi berdasarkan
pendapat ini bahwa keyakinan itu adalah pengetahuan yang didapt tanpa melalui
usah, tapi hanya semata limpahan arunia Allah. Sebalinya Abu Bakar Thaihir
mengatakan : “yaqin adalah ilmu yang
memiliki kepastian tanpa ada keraguan.
Menurut
Al-Sarraj merupa Al-Sarraj an hal yang tinggi. Ia adalah pondasi dan sekaligus
bagian akhir serta pangkalan terakhir dari seluruh ahwal. Dengan kata lain
ahwal terletak pada keyakianan yang tampak (Zahir) Puncak dari keyakianan ini
diisyaratkan Allah dalam firman-Nya.[1]
C. Karakteristik "akhlak"
kaum sufi
Jika kita menganalisa dengan seksama maka akan
kita dapatkan bahwa ajaran atau akhlak kaum sufi sebenarnya selaras dengan
konsep "islam rohmatal lil alamin" Adapun akhlak kaum sufi menurut
penjelasan Ulama besar tasawuf sebagai berikut :
a. Menurut Imam Junaidi al-Baghdady“Seorang sufi itu bagaikan bumi yang bila dilempari keburukan maka ia akan selalu membalasnya dengan kebaikan. Seorang sufi itu bagaikan bumi yang mana di atasnya berjalan segala sesuatu yang baik maupun yang buruk (semua diterimanya). Seorang sufi juga bagaikan langit atau mendung yang menaungi semua yang ada di bawahnya, dan seperti air hujan yang menyirami segala sesuatu tanpa memilah dan memilih, [yang baik maupun yang buruk semuanya diayominya]”. Kitab Nasyatu at-Tashawuf Wa Tashrifu as-Shufi hal 22
b. Dan menurut Aba Bakar al-Syibly dalam kitab Hilyah al-Auliya’ Hal 11.
“Orang sufi itu adalah seseorang yang membersihkan hatinya maka bersihlah hatinya, dan mengikuti jalannya Nabi al-Musthafa Saw. Serta tidak terlalu memikirkan perkara duniawi (lebih mementingkan masalah ukhrowi), dan menghilangkan keinginan hawa nafsunya. Hilyatu al-Auliya’ halaman 11
c. Aba Hammam
Abd. Rahman bin Mujib as-Shufi berpendapat:
“Ciri-ciri orang sufi itu adalah sebagai
berikut;
1. Seseorang
yang merasa dirinya hina
2. Menahan dan
memerangi hawa nafsunya
3. Memberi
nasehat kepada mahluk
4. Selalu
mendekatkan diri kepada Allah
5. Berperilaku
bijaksana
6. Menjauhi
berandai-andai (berangan-angan terlalu tinggi dalam hal duniawi)
7. Tidak mau
mencela
8. Mencegah
perbuatan dosa
9. Waktu
luangnya digunakan untuk beribadah
10. Susahnya
sengaja di buat-buat (karena memang seorang sufi itu terhindar dari berbagai
macam kesedihan dan kesusahan duniawiyah)
11. Hidupnya
sederhana
12. Arif
terhadap sesuatu yang benar
13.
Mengasingkan diri dan mencegah dari segala sesuatu yang sia-sia.
Ciri-Ciri
Kepribadian dan Perilaku Seorang Sufi
Menurut Imam
Qusyairi dalam kitabnya Risalah al-Qusyairiyah hal. 126-127 ciri-ciri
kepribadian dan perilaku seorang sufi dibagi menjadi dua yaitu:
1) Seorang sufi
al-Shadiq: merasa miskin setelah memperoleh kekayaan, merasa hina setelah
mendapatkan kemulyaan, dan menyamarkan dirinya setelah terkenal.
2) Seorang sufi
al-Kadzib: merasa kaya akan harta sesudah faqir, merasa mulia setelah hina,
merasa terkenal yang mana sebelumnya dia tidak masyhur.
BAB III
PENUTUP
D.
Kesimpulan
Dalam ilmu
Tasawuf, maqamat berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah
berdasarkan apa yang telah diusahakan. Sedangkan ahwal adalah kedudukan atau
situasi kejiwaan yang dianugerahkan Allah kepada seseorang hamba pada suatu
waktu, baik sebagai buah dari amal saleh yang mensucikan jiwa atau sebagai
pemberian semata. Pada dasarnya pencapaian maqamah dan ahwal adalah merupakan
pengalaman spiritual yang bersifat pribadi, sehingga yang mengetahui secara
persis adalah sufi yang mengalaminya secara langsung.
Ahwal
adalah bentuk jamak dari ‘hal’ yang
biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh
para sufi di sela- sela perjalanan spritualnya. Hal ini merupaan anugrah dan
rahmat dari Tuhan.
Seorang sufi itu bagaikan
bumi yang bila dilempari keburukan maka ia akan selalu membalasnya dengan
kebaikan. Seorang sufi itu bagaikan bumi yang mana di atasnya berjalan segala
sesuatu yang baik maupun yang buruk (semua diterimanya).
Daftar Pustaka
Bangun Nasution, Ahmad, Hanum Siregar,
rayani. Akhlak Tasawuf.Jaarta: PT RajaGrafindo Persada,2015
Abdul, Muhayya.1996/1997.Maqamat dan Ahwal. Jakarta: Depag RI.
Muhammad, Hasyim.2002.Dialog
antara Tasawuf dan Psikologi.Yogyakarta : Pustaka pelajar.
http://ipnu-ippnu-joho.blogspot.com/2013/05/maqamat-dan-ahwal-dalam-tasawuf
[1]Ahmad Bangun Nasution dan Rayani Hanum Siregar, Akhlak tasawuf (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada,2015 ) hal,47-59
Komentar
Posting Komentar