makalah akhlak tasawuf



BAB I
PENDAHULUAN
A.            Latar Belakang Masalah
Pengenalan diri di kalangan sufi merupakan sesuatu yang penting. Orang yang tidak mau mengenali dirinya sendiri, sama saja dengan karung yang kosong melompong. Ilmu pengetahuan diri dianggap ilmu rahasia. Orang yang belum pernah belajar ilmu pengetahuan diri dianggap belum sempurna imannya.
Maqam didalam tasawuf mempunyai arti sebagai tingkatan- tingkatan yang harus ditempu untuk mencapai ma’rifatullah( mengenal Allah), yang sifatnya permanen atau tetap, namun sifatnya tidak tegas dan tidak berurutan
Didalam tasawuf, banyak teori yang menyebut karakter- karakter keluhuran yang seharusnya dimiliki oleh manusia. Karakter – karakter tersebut tergambar dalam konsep- konsep yang salah satunya adalah maqam.
Dalam konsep maqam, terdapat banyak karakter- karakter tadi yang diantaranya adalah Taubah yang berarti semangat untuk melakukan perubahan yang lebih baik.
Atas dasar pemikiran di atas kami akan membahasnya didalam makalah ini.

B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan maqam?
2. Apa macam- macam maqam dalam tasawuf?
3. Apa itu Ah-wal?
4. Apa macam- macam Ahwal?
5. Apa saja karakteristik ahlak kaum sufi?

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui penjelasan maqam.
2. Untuk mengetahui penjelasan macam- macam maqam dalam tasawuf.
3. Untuk mengetahui penjelasan Ah-wal.
4. Untuk mengetahui penjelasan macam- macam Ahwal.
5. Untuk mengetahui penjelasan tentang karakteristik akhlak kaum sufi




BAB II
PEMBAHASAN
A.    MAQAM
Dalam rangka meraih derajat kesempurnaan, seorang sufi dituntut untuk melampaui tahapan- tahapan spiritual, memiliki suatu kosepsi tentang jalan (thariqat) menuju Allah Swt, jalan ini dimulai dengan latihan- latihan rohaniah (riyadhah) lalu secara bertahap menempuh berbagai fase yang dalam tradisi tasawuf dikenal dengan maqam (tingkatan).
Perjalanan menuju Allah Swt, merupaan metode pengenalan (makrifat) secara rasa (rohaniah) yang benar terhadap Allah Swt. Manusia tidak akan mengetahui banyak penciptaannya selama belum melakukan perjalanan menuju Allah Swt. Walaupun ia adalah orang yang beriman secara aqliyah. Sebab, ada perbedaan yang dalam antara iman secara aqliyah atau logis- teoretis (ai-iman al-aqli an-nazhari) dan iman secara rasa (al-iman asy-syu’ri adz-dzauqi).
Tingakatan (maqam) adalah tingkatan seorang hamba di hadabannya tidak lain merupakan kualitas kejiwaan yang bersifat tetap, inilah yang tidak lain membedakannya dengan keadaan spireitual (hal) yang bersifat sementara. Di kalangan kaum sufi, urutan maqam berbeda- beda, sebagian mereka merumuskan maqam- maqam dengan sederhana, seperti rangkaian maqam qanaah beriut ini: (1) tanpa qanaah, tawakal tidak akan tercapai; (2) tanpa tawakal, taslim tidak akan ada sebagaimana; (3) tanpa tobat, inabah tidak akan ada; (4) tanpa wara’, zuhud tidak akan ada.
Sementara itu, Al- kalabadzi—dalam buunya”At-ta’arruf li mazhab At-tashawwuf” menjadikan tobat sebagai kunci ketaan. Kemudian zuhud, sabar, faqr, tawadhu, taqwa, ihlas, syuur, tawakal, rida,yakin, zikir,uns,qarb, dan mahabbah.
Al-Qusyairi, dalam buunya “Ar- Risalah Al-Qusyairiyyah “ memberikan urutan maqam sebagai beriut: tobat,mujahaddah, khalwat, uzla, takwa, wara’, zuhud, khauf, raja, qanaah, tawakal, syukur, sabar,muraqabah, rida, ikhlas, zikir,faqr,  muhasabah, dan syauq..
Rumusan al- Gazali lebih sedikit lagi, ia merumuskan maqam seperti berikut ini: tobat, sabar, syukur, khauf, raja, tawakal, mahabbah, rida, ikhlas, muhasabah, dan muraqobah.
Sementara itu, Asy- Syukhrawardi dalam bukunya “Al-Awarif Al-ma’rif” merumusvan maqam menjadi tobat, wara’, zuhud, sabar, faqr, syukur, khauf, tawakal, dan rida.
Seorang tidak dapat beranjak dari satu maqam ke maqam lain sebelum ia memenuhi semua persyaratan yang ada pada maqam tersebut. Sebgaimana digambarkan oleh Al-       Qusyairia bahwa seseorang yang belum sepenuhnya qanaah tidak bisa mencapai tawaal dan barang siapa yang belum sepenuhnya tawakal tidak bisa sampai pda taslim. Barang siapa yang belum sepenuhnya taubah tidak bisa sampai inabat dan barang siapa yang belum sepenuhnya wara tidak bisa mencapai zuhud, begitu seterusnya.
Perlu diketahui, antara maqam dan hal tidak dapat dipisahkan. Keduanya dapat dilihat dalam kenyataan bahwa maqam menjadi prasyarat menjadi Tuhan. Bahwa dalam maqam akan mengntarkan seseorang untuk mendaki ke maqam- maqam selanjutnya.
Sekadar contoh, apabila seorang yang tengah berada dalam maqam tobat maka akan menemukan hal (perasaan) betapa indahnya bertobat itu dan betapa nikmatnya menyadari dosa- dosa dihadapan Tuhan.
Macam- macam  maqam dalam tasawuf yang dijalani kaum sufi umumnya terdiri atas: tobat, wara’, zuhud, faqr (fakir), sabar, rela(ridha), tawakal.
1.      Tobat
Dalam ajaran tasawuf tobat termasuk sebagai maqam pertama yang harus dilalui dan dijalani oleh kaum sufi. Kebanyakkan kaum sufi menjadikan tobat sebagai awal di jalan menuju Allah Swt. Di mana tobat memiliki pengertian yaitu menyadari kesalahan sepenuh hati dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Apabila telah tercapai maqam attaubatu min taubatihiiyakni mentaubati terhadap kesadaran keberadaan dirinya dan kesadaran akan tobatnya itu sendiri.

2.      Wara’
Wara’ yaitu menjauhi atau meninggalkan segala hal yang belum jelas haram dan halalnya serta orang yang menjaga marwah (harga diri). Hal ini berlaku dalam segala hal atau aktivitas kehidupan manusia seperti makanan, minuman, pakaian, pembicaraan, perjalanan, dan lain- lain. Nabi bersabda yang artinya ibadah itu sepuluh. Sembilan dari pahala dalam mencari halal, menjadi dua yaitu wara’ segi lahir dan wara’ batin. Wara’ lahir yaitu hendaklah kamu tidak bergerak terkecuali untuk ibadah kepada Allah. Wara’ batin yaitu agar tidak masuk dalam hatimu terkecuali Allah ta’ala.

3.      Zuhud
Sesudah maqam wara’ dikuasai mereka baru berusaha menggapai maqam di atasnya, yakni maqam zuhud. Berbrda dengan wara’ yang pada dasarnya merupakan perilaku menjauhi yang subhat dan setiap yang haram, maka zuhud pada dasarnya adalah tidak tama atau tidak ingin mengutamakan kesenengan duniawi. Jadi dapat disimpulkan zuhud merupakan maqam yang bertujuan menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan Allah Swt.
Misalnya seseorang hanya mempunyai hasrat, keinginan dan nafsu untuk menjadikan kemewahan dan kenikmatan duniawi sebgai tujuan hidupnya atau sehingga memalingkan  dari Tuhan. Oleh arena itu, seorang sufi dituntut untuk terlebih dahulu memalingkan seluruh aktivitas jasmani dan rohaninya dari hal- hal yang bersifat duniawi.

4.      Faqr (fakir)
Dapat berarti sebagai kekurangan yang diperlukan seseorang dalam menjalani kehidupan di dunia. Karena kekayaan/ harta memungkinkan manusia dekat pada kejahatan dan membuat jiwa menjadi lupa pada Allah. Maka dapat disimpulkan bahwa fakir adalah golongan yang telah memalingkan setiap pikiran dan harapan yang akan memisahkan dari Allah atau penyucian hati secara keseluruhan terhadap apa yang membuat jauh dari Tuhan.

5.      Sabar
Dalam islam mengendalikan diri untuk laku sabar merupakan tiang bagi akhlak mulia. Dalam tasawuf sabar dijadikan satu maqam sesudah maqam fakir karena persyaratan untuk bisa konsentrasi dalam zikir orang harus bisa mencapai fakir. Tentu hidupnya aan dilanda berbagai macam rintangan, oleh karena itu harus melangkah ke maqam sabar. Dimana sabar memiliki pengertian yaitu menahan diri dari nafsu dan amarah. Dimana dalam firman Allah yaitu:

“Wahai orang-orang yang beriman minta tolonglah dengan sholat dan sabar, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.

6.      Rela (Ridha)
Rela (ridha) berarti menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugrahkan Allah Swt. Orang yang rela mampu menerima dan melihat hikmah dan kebaikan dibalik cobaan yang diberikan Allah Swt. dan tidak berburuk sangka terhadap ketentuannya.
Menurut Abdul Halim Mahmud, ridha mendorong manusia berusaha seuat tenaga mencapai apa yang dicintai Allah Swt. dan Rasul-Nya. Sebelum mencapainya ia harus menerima dan merelakan akibatnya dengan cara apa pun yang diskai Allah Swt.
7.      Tawakal
Dalam syariat Islam diajarkan bahwa tawakal dilakukan segala daya dan upaya dan ikhtiar dijalankannya. Tasawuf menjadikan maqam tawakal sebagai wasilah atau sebagai tangga untuk memalingkan hati manusia agar tidak memikiran keduniaan serta apa saja selain Allah Swt.Tawakal merupakan keteguhan hati dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah Swt. Serta berhenti memikirkan diri sendiri atau merasa memiliki daya dan kekuatan. Dikataan oleh sejumlah kaum sufi bahwa barang siapa yang ingin melakukan tawakal dengan sebenar-benarnya hendaknya ia menggali kubur di siti melupakan dunia dan penghuninya artinya tawakal mencerminkan penyerahan diri menusia kepada Allah Swt.
            Dimana Maqam terbagi menjadi tujuh, yaitu:
-          Maqam tobat
-          Maqam wara’
-          Maqam zuhud
-          Maqam fakir
-          Maqam sabar
-          Maqam ridha
-          Maqam tawakal.
Seseorang tidak dapat beranjak dari suatu maqam ke maqam lain sebelum ia emenuhi semua persyaratan yang ada pada maqam tersebut. Sebagaimana digambarkan oleh Al-Qusyairia bahwa seseorang yang belum sepenuhnya qanaah tidak bisa mencapai tawakal dan barangsiapa yang belum sepenuhnya tawakal tidak bisa sampai taslim. Barang siapa yang belum sepenuhnya taubat tidak bisa sampai inabat dan barang siapa yang belum sepenuhnya wara’ tidak bisa mencapai zuhud begitu dengan seterusnya.

B.     AHWAL.
Ahwal adalah bentuk jamak dari ‘hal’ yang biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela- sela perjalanan spritualnya. Hal ini merupaan anugrah dan rahmat dari Tuhan.
Al-Sarraj, sebagai sufi yang hidup lebih dahulu dari para sufi tersebut, memandang bahwa ahwal adalah  “ apa-apa yang bersemayam di dalam kalbu dengan sebab zikir yang tulus “. ada yang mengatakan bahwa hal adalah zikir yang lirih (khafiy), sebagaimana Hadist Nabi yang menyatakan bahwa sebaik-baik zikir adalah yang lirih (khayr al-dzikir al-khafy). Menurut Al-Saraj, Al-Junaid juga melihat bahwa hal bertempat didalam kalbu dan tidak kekal. Dalam pandangan al-sarraj, hal tidak diperoleh melalui ibadah, riyadhah, dan mujahadah sebagaimana maqamat, melainan anugerah Allah.
Kendatipun   kondisi atau sikap mental itu semata anugerah Allah, bukan karena latihan dan perjuangan, namun bagi setiap orang yang ingin meningkatkan intensitas jiwanya haruslah berusaha menjadikan dirinya orang yang berha menerima anugerah Allah tersebut, yaitu dengan meningkatkan amal perbuatannya, bai dari segi kualitas maupun segi kuantitasnya.
Jika diurut sejarahnya, konsep tentang maqamat dan ahwal sesungguhnya telah ada pada masa awal- awal islam. Tokoh pertama yang berbicara tentang dua konsep penting dalam tasawuf ini adalah Ali bin Abi Thalib: ketika ia ditanya tentang iman,ia menjawab bahwa iaman dibangunatas empat pondasi: kesabaran (shabr), keyakinan (yaqin), veadilan (‘adl) dan perjuangan (jihad). Senada dengan pandangan ini, tokoh pertama yang juga membahas tentang ahwal adalah Zunnun al- mishri (w, 796-861 M) , sementara Sari al-Saqati( w.253 H/ 867 M) merupaan sufi pertama yang menyusun maqamat dan menjelaskan tentang ahwal.
Dibawah ini adalah beberapa macam ahwal, diantaranya sebagai berikut.
1.      Khauf
Khauf menurut ahli sufi berarti suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena khawatir kurangnya pengabdian. Takut Dan khawatir kalau- kalau Allah tidak senang padanya. Oleh karena adanya perasaan seperti itu, maka ia selalu berusaha agar sikap dan tingkah laku perbuataanya tidak menyimpang dari yang dikehendaki Allah. Bisa jadi perasaan khauf ini timbul karena takut kepada sisa Allah. Juga bisa timbul karena pengenalan dan kecintaan kepada Allah sudah begitu mendalam, sehingga ia merasa khawatir kalau- kalau Allah melupakannya.
Dalam hubungan ini imam Al- Gazali berbicara tentang macam- macam khauf. Beliau membagi khauf kepada dua macam, yaitu: (1) khauf karena khawatir kehilangan nikmat. Inilah yang mendorong orang untuk selalu memelihara dan menempatkan nikmat itu pada tempatnya, dan (2) khauf epada sisaan sebagai akibat perbuatan kemaksiatan. Khauf  seperti inilah yang mendorong orang untuk menjauh dari apa yang dilarang dan melaksanakan apa yang diperintah.
Dalam pandangan Al-Sarraj, khauf (takut) senantiasa bergandengan dengan mahabbah (cinta). Keduanya tidak bisa dipisahkan dan masih dalam bingkai qurb ( kedekatan). Qurb membutuhkan dua kondisi. Pertama, dalam hati sang hamba yang dominan adalah rasa takutnya. Kedua, dalam hati sang hamba yang dominan adalah rasa cintanya. Hal itu terjadi karena Allah memberikan kepada hati sebuah kepercayaan.

2.      Raja’
Raja’ adalah suatu sikap mental yang optimis dalam memperoleh karunia dan rahmat ilahi yang disediakan bagi hamba- hamba-Nya yang saleh, karena ia yakin bahwa Allah Maha Pengasih , Pengasih, Penyayang, dan Maha pengampun. Jiwanya penuh pengharapan avan mendapat ampun, merasa lapang dada, penuh gairah menanti rahmat dan kasih sayang Allah. Perasaan optimis ini aan memberi gairah bagi sufi untu terwujudnya apa yang diidam- idamkan.
Dalam konteks ini Ibnu Qudamah al-Muqaddasi mengatakan bahwa yang di katakan dengan raja’ ialah rasa lapang dada varena menantivan yang diharapkan, yaitu hal yang mungkin terjadi. Tetapi jika yang diharapkan itu mustahil terjadi, maka yang demikian dinamkan tamanni (ilusi). Beliau juga mengatakan “ sesuatu yang terlintas di dalam hati yang merupakan harapan pada masa yang akan datang dinamakan raja’, dan yang merupakan sesuatu yang ditakuti dinamaan khauf.
Demikianlah arti raja’yang mendorong manusia muslim untuk selalu berbuat baik dan beramal saleh demi mengharap varunia dan rahmat Allah. Allah Swt, berfirman: “sesungguhnya orang- orang yang beriman, orang- orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang”. (QS. Al-Baqoroh [2]:218)

3.      Syauq
Syauq adalah kerinduan, varena setiap orang yang cinta vepada sesuatu tentu ia merindukannya. Secara psiologi, rindu tidak akan tumbuh, melainkan terhadap sesuatu yang sudah diketahui. Terhadap sesuatu yang belum diketahui tidak mungkin lahir rasa rindu. Kesempurnaan rasa rindu itu adalah dengan ru’yah (melihat) dan liqa’ (bertemu) yang dirindukan, dan yang demivian akan dapat pada hari akhir nanti.
Dengan demikian, syauq adalah rasa rindu yang memancar dari kalbu karena gelora cinta sejati. Pengetahuan dan pengenalan yang mendalam terhadap Allah akan meenimbulkan rasa gairah. Rasa senang yang bergairah melahirkan cinta dan akan tumbuh rasa rindu. Rindu ingin bertemu, dan hasrat yang selalu menggelora. Setiap denyut jantung, detak kalbuh dan desah nafas, ingatannya hanya kepada Allah. Inilah syauq. Perasaan inilah yang menjadi motor pendorong orang sufi untuk selalu ada sedekat mungkin dengan Allh, yang menjadi sumber segala kenikmatan dan keindahan yang didambakan.

4.      ‘Uns
Dalam tasawuf ‘Uns berarti veakraban atau keintiman. Perasaan ‘Uns merupakan kondisi kewajiban, dimana seorang merasakan kedekatan dengan Tuhan (pencerahan dalam kebenaran). Seseorang yang pada kondisi ‘Uns akan merasakan kebahagiaan, kesenangan, serta suka cinta yang meluap- luap. Kondisi kejiwaan seorang sufi ketika merasakan kedekatan dengan Allah yang mana hati dan perasaan diliputi oleh cinta dan lain- lain. Menurut Abu Sa’id Al-kharraj ‘Uns adalah perbincangan antara roh dengan sang kekasih pada kondisi yang sangat devat. Zunnun memandang ‘Uns sebagi perasaan lega yang melekat pada sang pencinta terhadap kekasihnya.
Pengertian lain ‘Uns adalah veadaan jiwa dan seluruh ekspresi terpusat penuh kepada suatu titik sentrum yaitu Allah, tidak ada yang di rasa, tidak ada yang di ingat, tidak ada ynag diharap kecuali Allah. Segenap jiwanya terpusat bulatsehingga ia seavan- akan tidak menyadari dirinya lagi dan berada dalam situasi hilang kesadaran terhadap lam sekitarnay. Situasi vejiwaan seperti itulah yang disebut Al-‘Uns. Situasi ‘Uns ini mirip dengan al- fana sebab kata Dzu al-nun seorang yang memperoleh keadaan ‘uns viranya ia dilemparkan ke \neraka, tentu tidak akan merasakan panasnya neraka itu.
Dalam pabdangan sufi, sifat ‘uns (intim) adalah sifat merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi. Ungkapan berikut ini melukiskan sifat ‘Uns, “ Ada orang merasa sepi dalam keramaian. Ia adalah orang yang selau memikirvan vekasihnya sebab sedang dimabuv cinta, seperti halnya sepasang pemuda dan pemudi. Ada juga yang merasakan bising dalam kesepian. Ia adalah orang yang memikirvan atau merencanakan tugas pekerjaannya semata- mata. Adapun engkau, selau berteman di mana pun berada. Alangkah mulianya Engkau berteman dengan Allah, artinya engvau selalu berada dalam pemeliharaan Allah.

5.      Mahabbah
Mahabbah secara literal mengandung beberapa pengertian sesuai dengan asal pengembalian katanya. Mahabbah berasal dari kata hibbah, yang berarti benih yang jatuh ke bumi, karena cinta adalah sumber kehidupan, sebagaimana benih menjadi sumber tanaman.
Dalam perspektif tasawuf ,mahabbah bisa ditelusuri maknanya menurut pandangan para sufi. Menurut Al-Junaid, cinta adalah kecenderungan hati. Yakni hati cenderung kepada Tuhan dan apa- apa yang berhubungan dengan- Nya tanpa usaha. Cinta, menurut pemuka sufi lain, adalah mengabdikan diri kepada yang dicintainya.

6.      Yaqin
Perpaduann antara penegetahuan yang luas dan mendalam dengan rasa cinta dan rindu yang menggelora bertaut lagi dengan perjumpaan secara langsung, tertanamlah dalam jiwanya dan tumbuh bersemi perasan yang mantap, dialah yang dicari tu. Perasaan mantapnya pengetahuan yang diperoleh dari pertemuan secara langsung, iyulah yang disebut dengan Al-yaqin. Yaqin adalah kepercayaan yang kokoh tak tergoyahkan tentang kebenaran pengetahuan yang ia miliki, karena ia sendiri menyaksikannya dengan jiwanya.
Selanjutnya, menurut sebagia orang sufi, yaqin adalah suatu pengetahuan yang diletakkan bedlam hati seseorang .jdi berdasarkan pendapat ini bahwa keyakinan itu adalah pengetahuan yang didapt tanpa melalui usah, tapi hanya semata limpahan arunia Allah. Sebalinya Abu Bakar Thaihir mengatakan : “yaqin adalah ilmu yang memiliki kepastian tanpa ada keraguan.
Menurut Al-Sarraj merupa Al-Sarraj an hal yang tinggi. Ia adalah pondasi dan sekaligus bagian akhir serta pangkalan terakhir dari seluruh ahwal. Dengan kata lain ahwal terletak pada keyakianan yang tampak (Zahir) Puncak dari keyakianan ini diisyaratkan Allah dalam firman-Nya.[1]
C.  Karakteristik "akhlak" kaum sufi
Jika kita menganalisa dengan seksama maka akan kita dapatkan bahwa ajaran atau akhlak kaum sufi sebenarnya selaras dengan konsep "islam rohmatal lil alamin" Adapun akhlak kaum sufi menurut penjelasan Ulama besar tasawuf sebagai berikut :
a. Menurut Imam Junaidi al-Baghdady
“Seorang sufi itu bagaikan bumi yang bila dilempari keburukan maka ia akan selalu membalasnya dengan kebaikan. Seorang sufi itu bagaikan bumi yang mana di atasnya berjalan segala sesuatu yang baik maupun yang buruk (semua diterimanya). Seorang sufi juga bagaikan langit atau mendung yang menaungi semua yang ada di bawahnya, dan seperti air hujan yang menyirami segala sesuatu tanpa memilah dan memilih, [yang baik maupun yang buruk semuanya diayominya]”. Kitab Nasyatu at-Tashawuf Wa Tashrifu as-Shufi hal 22
b. Dan menurut Aba Bakar al-Syibly dalam kitab Hilyah al-Auliya’ Hal 11.
 “Orang sufi itu adalah seseorang yang membersihkan hatinya maka bersihlah hatinya, dan mengikuti jalannya Nabi al-Musthafa Saw. Serta tidak terlalu memikirkan perkara duniawi (lebih mementingkan masalah ukhrowi), dan menghilangkan keinginan hawa nafsunya. Hilyatu al-Auliya’ halaman 11
c. Aba Hammam Abd. Rahman bin Mujib as-Shufi berpendapat:
 “Ciri-ciri orang sufi itu adalah sebagai berikut;
1. Seseorang yang merasa dirinya hina
2. Menahan dan memerangi hawa nafsunya
3. Memberi nasehat kepada mahluk
4. Selalu mendekatkan diri kepada Allah
5. Berperilaku bijaksana
6. Menjauhi berandai-andai (berangan-angan terlalu tinggi dalam hal duniawi)
7. Tidak mau mencela
8. Mencegah perbuatan dosa
9. Waktu luangnya digunakan untuk beribadah
10. Susahnya sengaja di buat-buat (karena memang seorang sufi itu terhindar dari berbagai macam kesedihan dan kesusahan duniawiyah)
11. Hidupnya sederhana
12. Arif terhadap sesuatu yang benar
13. Mengasingkan diri dan mencegah dari segala sesuatu yang sia-sia.
Ciri-Ciri Kepribadian dan Perilaku Seorang Sufi
Menurut Imam Qusyairi dalam kitabnya Risalah al-Qusyairiyah hal. 126-127 ciri-ciri kepribadian dan perilaku seorang sufi dibagi menjadi dua yaitu:
1) Seorang sufi al-Shadiq: merasa miskin setelah memperoleh kekayaan, merasa hina setelah mendapatkan kemulyaan, dan menyamarkan dirinya setelah terkenal.
2) Seorang sufi al-Kadzib: merasa kaya akan harta sesudah faqir, merasa mulia setelah hina, merasa terkenal yang mana sebelumnya dia tidak masyhur.

























BAB III
PENUTUP
D.    Kesimpulan
Dalam ilmu Tasawuf, maqamat berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakan. Sedangkan ahwal adalah kedudukan atau situasi kejiwaan yang dianugerahkan Allah kepada seseorang hamba pada suatu waktu, baik sebagai buah dari amal saleh yang mensucikan jiwa atau sebagai pemberian semata. Pada dasarnya pencapaian maqamah dan ahwal adalah merupakan pengalaman spiritual yang bersifat pribadi, sehingga yang mengetahui secara persis adalah sufi yang mengalaminya secara langsung.
Ahwal adalah bentuk jamak dari ‘hal’ yang biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela- sela perjalanan spritualnya. Hal ini merupaan anugrah dan rahmat dari Tuhan.
Seorang sufi itu bagaikan bumi yang bila dilempari keburukan maka ia akan selalu membalasnya dengan kebaikan. Seorang sufi itu bagaikan bumi yang mana di atasnya berjalan segala sesuatu yang baik maupun yang buruk (semua diterimanya).














Daftar Pustaka

Bangun Nasution, Ahmad, Hanum Siregar, rayani. Akhlak Tasawuf.Jaarta: PT RajaGrafindo Persada,2015
Abdul, Muhayya.1996/1997.Maqamat dan Ahwal. Jakarta: Depag RI.
Muhammad, Hasyim.2002.Dialog antara Tasawuf dan Psikologi.Yogyakarta : Pustaka pelajar.
http://ipnu-ippnu-joho.blogspot.com/2013/05/maqamat-dan-ahwal-dalam-tasawuf



[1]Ahmad Bangun Nasution dan Rayani Hanum Siregar, Akhlak tasawuf (Jakarta: PT RajaGrafindo  Persada,2015 ) hal,47-59

Komentar